Perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris
SEORANG SULTAN YANG RELA MENINGGALKAN TAKHTA KERAJAAN DEMI KEBEBASAN SUATU NEGERI
Biografi
Beliau putra dari Aji Pangeran Anum Panji Mendapa Ing Martadipura Gelar Meruhum Aji Dipamerangan adalah Raja Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke 13 (1700-1732) dan Ratu Suri yang bernama Tenri Sompa gelar I Doya Putri Latagung.
Keturunan
Sultan Aji Muhammad Idris mempunyai 2 orang istri dan 12 orang putra-putri namun yang diketahui hanya 5 orang hasil pernikahannya dengan :
1. Andi Rianjeng gelar I Doya Putri Agung atau Aji Putri Agung Binti Petta To Sibengarang Bin La Maddukkelleng (Sultan Paser dan Raja Gowa) melahirkan :
1. Aji Putri Intan Alias Aji Kengsan
2. Aji Pangeran Imbut gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin
3. Aji Pangeran Berajanata
2. Dayang Sungka Binti Tan Panjang Bin Adipati Maharaja Marga Nata Kusuma adalah Adipati Kerajaan Kutai Mulawarman di Wilayah Muara Gelumbang - Muara Bengkal melahirkan :
1. Aji Pangeran Megan gelar Aji Pangeran Maharaja Nata Kusuma menjadi Adipati di Muara Gelumbang - Muara Bengkal
2. Aji Pangeran Amjah Mas Aria gelar Aji Pangeran Sri Bangun I menjadi Adipati Kota Bangun inilah disebut dengan Raja Sri Bangun dan menurunkan Aji Soja salah satu isteri Sultan Aji Muhammad Sulaiman yang melahirkan Aji Pangeran Amiddin atau Aji Pangeran Mangkunegoro
Perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris Melawan VOC Bersama Raja Wajo
Sultan Aji Muhammad Idris diangkat menjadi Sultan sebagai pengganti ayahnya, Pangeran Dipati Anum Pandji Mendapa. Ia disumpah untuk menduduki tahta kerajaannya pada 1732 hingga 1739.Sumpah yang mengangkat Sultan itu dilakukan dalam acara kerajaan yang sangat sakral yang disaksikan oleh rakyat negerinya dan para leluhurnya yang disebut upacara Erau.
Ketika kakek mertuanya, Lamaddukkelleng terdesak oleh serangan Belanda saat menjadi Arung Wajo, Sultan Adji Muhammad Idris meninggalkan tahtanya di Kutai datang ke Wajo dengan kapal perang bersama 200 pasukannya untuk membantu perlawanan terhadap kolonialis Belanda. Diperkirakan pada awal tahun 1739. Sementara Pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara untuk sementara dipegang oleh Dewan Perwalian.
Bersama pengikutnya, Sultan Adji Muhammad Idris sempat menyerang benteng milik Belanda di Makassar yakni Fort Rotterdam, namun karena kalah persenjataan sultan akhirnya dipukul mundur. "Dasar pengusulan itu terkait sejarah perjuangan Sultan Adji Muhammad Idris melawan penjajah bersama pahlawan nasional asal Sulsel, La Maddukelleng," kata Awang Faroek Ishak.
Belum ditemukan data yang pasti apa penyebab Sultan Adji Muhammad Idris wafat. Namun sejarawan Unhas, Prof.Dr.H.A.Zainal Abidin Farid (alm) dalam bukunya ‘Kiat-kiat Kepahlawanan La Maddukkelleng Arung Matoa Wajo dalam Usaha Mengusir Orang-orang Belanda dari Makassar dalam peperangan melawan Belanda di Makassar’’ terbitan Pemkab Wajo (1994), memperkirakan Sultan terluka dalam suatu perang ketika dilakukan penyerangan terhadap Belanda di Makassar, lalu dibawa kembali ke Wajo, kemudian wafat serta dimakamkan di kampung halaman mertuanya.
Pada tahun 1739, Sultan Aji Muhammad Idris gugur di medan laga. Sultan Aji Muhammad Idris dikebumikan di tanah wajo. Almarhum Sultan Adji Muhammad Idris yang kemudian tercatat dalam catatan lama di Sulawesi Selatan dengan gelar Darise Daenna Parasi Petta Kutai Petta Matinro ri Kawanne.
Dalam seminar sejarah yang sudah dilakukan beberapa kali oleh Pemkab Kukar, termasuk pernah dilakukan di Kota Makassar menghadirkan narasumber sejumlah sejarawan nasional, disimpulkan perjuangan Sultan Kutai Sultan Adji Muhammad Idris sangat layak ditetapkan juga sebagai Pahlawan Nasional. Satu-satunya Sultan yang rela meninggalkan tahta kerajaan di Kutai untuk berjuang lintas daerah melawan kolonialis Belanda. Suatu sikap nasionalisme yang tinggi telah diperlihatkan Sultan Adji Muhammad Idris pada masanya. Sayangnya, usulan menjadikan Sultan Kutai ke-14 ini untuk menjadi Pahlawan Nasional belum juga tarsahuti oleh pemerintah pusat.
Usulan Gelar Pahlawan Nasional
Sudah 75 tahun Indonesia merdeka. Namun sampai saat ini, belum ada satupun tokoh asal Kaltim yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Namun harapan mengangkat salah satu tokoh menjadi pahlawan nasional tetap ada. Salah satu yang kini diusulkan, adalah Sultan Aji Muhammad Idris. Sekretaris Komisi IV Kesejahteraan Rakyat (Kesra) DPRD Kaltim, Salehuddin menyampaikan, nama Sultan Aji Muhammad Idris disampaikan oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Pusat sebagai tokoh yang berpotensi mendapat gelar pahlawan nasional.
Hal tersebut disampaikan dalam koordinasi dan konsultasi pengusulan calon pahlawan nasional (CPN) 2020 yang digelar Kementerian Sosial melalui Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan, dan Restorasi Sosial. “Dari hasil pertemuan kemarin, Tim TP2GD Pusat mengatakan bahwa tokoh Kesultanan Kutai Kartanegara yang bernama Sultan Aji Muhammad Idris, secara persyaratan bisa menjadi pahlawan nasional dari Kaltim,” katanya, Selasa (1/9/2020) siang. Buku Perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris karya Safardy Bora dkk mencatat perjuangan sang sultan.
Dilansir dari halamanmoeka.com, Sultan Aji Muhammad Idris dengan kesadaran penuh, meninggalkan tahtanya demi membantu mertuanya, La Maddukelleng yang ketika itu diperhadapkan pada situasi sulit. Membantu membebaskan Kerajaan Wajo yang dalam cengkeraman Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Perjuangannya telah menjadi satu model baru dalam melihat bagaimana kerajaan-kerajaan yang ada di nusantara di masa lalu, membangun kerjasama dalam mengusir penjajah. Sehingga menurut Salehuddin, Sultan Aji Muhammad Idris bisa menjadi pahlawan nasional yang jejak sejarahnya pun telah ada. “Atas dasar itulah, nama Sultan Aji Muhammad Idris beserta dengan bukti-bukti lainnya yang ada di Arsip Nasional, Perpustakaan Leiden (Belanda), serta bukti-bukti lainnya, diusulkan menjadi pahlawan nasional,” ucapnya. “Karena Sultan Aji Muhammad Idris dari segi persyaratan sudah ada, tinggal dari kitanya lagi yang melengkapinya. Dan saya akui ketika melihat proses seleksi dan persyaratannya sangat banyak sekali, tetapi saya optimistis,” tambahnya.
DAPAT DUKUNGAN PUBLIK
Usulan pencalonan Sultan Aji Muhammad Idris disambut baik oleh publik. Ketua Taruna Pemuda Sanga-Sanga, Aspian menyetujui usulan tersebut. Ia menyebut harus ada pahlawan nasional dari Kaltim. “Iya saya sangat setuju dan memang harus ada pahlawan nasional dari Kaltim. Terlebih lagi Kaltim juga ditunjuk sebagai IKN (Ibukota Negara),” ungkapnya.
Dinsos Kaltim Gelar kegiatan Koordinasi dan Konsultasi Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional
SAMARINDA - Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, HM Jauhar Effendi resmi membuka kegiatan Koordinasi dan Konsultasi Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional dengan Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP), Senin (31/8) bertempat di Aula Asran Bulkis Dinas Sosial, jalan Basuki Rahmat No 76, Samarinda.
Jauhar, mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Sosial yang telah mengadakan kegiatan ini, sehingga mempermudah kami, dalam hal ini Dinas Sosial maupun anggota TP2GP yang memang sangat membutuhkan informasi yang komprehensif terkait prosedur pengusulan calon Pahlawan Nasional serta berkenan secara langsung menyampaikan prosedur Pengusulan Calon Pahlawan Nasional.
Manfaatkan dan optimalkan kegiatan ini untuk menggali lebih jauh mengenai prosedur pengusulan calon Pahlawan Nasional. Kesempatan ini menjadi momentum yang baik, Mohon kiranya bapak/Tim anggota TP2GP berkenan apabila nanti dari kami akan ada banyak pertanyaan dan permohonan penjelasan terkait pengusulan Pahlawan Nasional,' ujar Jauhar.
Semoga dengan kegiatan ini kita mendapatkan informasi yang lengkap terkait pengusulan Pahlawan Nasional karena Kegiatan ini penting untuk mendapatkan penjelasan langsung dari anggota Tim TP2GP yang selama ini belum pernah dilaksanakan,' harap Jauhar ketika membuka kegiatan Koordinasi dan Konsultasi Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional dengan Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) yang turut dihadiri oleh Kadis Sosial Kaltim, HM Agus Hari Kesuma, Direktur Kepahlawanan Keperintisan dan Kesetiakawanan Sosial, Ketua Tim Ahli Kepahlawanan Kemensos, Korem 091 ASN, Polda Kaltim, TGUP3, LPRI Kaltim, Komisi IV DPRD Kaltim, dan Tokoh Masyarakat.
Sebagai infomasi, adapun nama-nama Pahlawan Nasional yang di ajukan Pemprov Kaltim melalui Dinas Sosial ialah, Haji Abdoel Moeis Hassan, yang merupakan Gubernur Kalimantan Timur ke-2 dan seorang tokoh pemuda pergerakan kebangsaan di Samarinda pada masa 1940–1945 dan pemimpin perjuangan diplomasi politik untuk kemerdekaan Republik Indonesia di wilayah Kalimantan Timur pada masa 1945–1949, Sultan Aji Muhammad Idris, sultan ke-14 dari Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang memerintah mulai tahun 1735 hingga tahun 1778. Sultan Aji Muhammad Idris merupakan sultan pertama yang menggunakan nama Islam semenjak masuknya agama Islam di Kesultanan Kutai Kartanegara pada abad ke-17. (mc)
SUMBER
https://kaltim.antaranews.com/berita/7857/adji-muhammad-idris-diusulkan-jadi-pahlawan-nasional
https://sites.google.com/site/dennapratiwis/makam-lamaddukelleng
https://nomorsatukaltim.com/2020/09/04/perkenalkan-sultan-aji-muhammad-idris-calon-pahlawan-nasional-dari-kaltim/
Berita dari Akun FB Hallo Dissos Kaltim mengenai Dinsos Kaltim Gelar kegiatan Koordinasi dan Konsultasi Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.wikiwand.com%2Fid%2FKapal_tiang&psig=AOvVaw2fFujBH8gM6T_YuSFXv_LY&ust=1600332818636000&source=images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCKDZtcKm7esCFQAAAAAdAAAAABAQ




Komentar
Posting Komentar