Autisme
AUTISME
KELOMPOK 4
MUHAMMAD
AZHAR FARIDZAL
VIRGIANI
LISTANTI
WUN JONG
RISDA
XI
KEPERAWATAN 5
SMK
KESEHATAN SAMARINDA
TAHUN AJARAN
2018-2019
A. Latar Belakang
Autisme pada dasarnya adalah suatu kelainan
biologis pada penyandangnya. Pada saat ini autisme dikategorikan sebagai
“biological disorder”, dalam arti bahwa autisme bukan merupakan gangguan
psikologis. Lebih spesifik dapat dikatakan bahwa autisme adalah suatu gangguan
perkembangan karena adanya kelainan pada sistem saraf penyandangnya (neurological
or brain based development disorder). Autisme dapat terjadi pada siapa pun,
tanpa membedakan warna kulit, status sosial ekonomi maupun pendidikan
seseorang. Sampai saat ini, penyebab GSA belum dapat ditetapkan. Negara-negara
maju yang sanggup melakukan penelitian menyatakan bahwa penyebab autisme adalah
interaksi antara faktor genetik dan mungkin berbagai paparan negatif yang
didapat dari lingkungan. Kelainan ini menimbulkan gangguan, antara lain
gangguan komunikasi, interaksi sosial, serta keterbatasan aktivitas dan minat.
Autisme pada saat ini sudah dikategorikan sebagai suatu epidemik di beberapa
negara. Penanganan yang sudah tersedia di Indonesia antara lain terapi
perilaku, terapi wicara, terapi komunikasi, terapi okupasi, terapi sensori integrasi,
dan pendidikan khusus. Beberapa dokter melakukan penatalaksanaan penanganan
biomedis dan diet khusus. Penanganan lain seperti integrasi auditori, oxygen
hiperbarik, pemberian suplemen tertentu, sampai terapi dengan lumba-lumba, juga
sering ditawarkan.
Autisme adalah kelainan perkembangan sistem
saraf pada seseorang yang kebanyakan diakibatkan oleh faktor hereditas dan
kadang-kadang telah dapat dideteksi sejak bayi berusia 6 bulan. Deteksi dan
terapi sedini mungkin akan menjadikan si penderita lebih dapat menyesuaikan
dirinya dengan yang normal. Kadang-kadang terapi harus dilakukan seumur hidup,
walaupun demikian penderita Autisme yang cukup cerdas, setelah mendapat terapi
Autisme sedini mungkin, seringkali dapat mengikuti Sekolah Umum, menjadi Sarjana
dan dapat bekerja memenuhi standar yang dibutuhkan, tetapi pemahaman dari rekan
selama bersekolah dan rekan sekerja seringkali dibutuhkan, misalnya tidak
menyahut atau tidak memandang mata si pembicara, ketika diajak berbicara.
Karakteristik yang menonjol pada seseorang yang mengidap kelainan ini adalah
kesulitan membina hubungan sosial, berkomunikasi secara normal maupun memahami
emosi serta perasaan orang lain.Autisme merupakan salah satu gangguan
perkembangan yang merupakan bagian dari gangguan spektrum autisme atau Autism
Spectrum Disorders (ASD) dan juga merupakan salah satu dari lima jenis gangguan
dibawah payung Gangguan Perkembangan Pervasif atau Pervasive Development
Disorder (PDD). Autisme bukanlah penyakit kejiwaan karena ia merupakan suatu
gangguan yang terjadi pada otak sehingga menyebabkan otak tersebut tidak dapat
berfungsi selayaknya otak normal dan hal ini termanifestasi pada perilaku
penyandang autisme.Autisme adalah yang terberat di antara PDD.Gejala-gejala
autisme dapat muncul pada anak mulai dari usia tiga puluh bulan sejak kelahiran
hingga usia maksimal 3tahun.Penderita autisme juga dapat mengalami masalah
dalam belajar, komunikasi, dan bahasa.Seseorang dikatakan menderita autisme
apabila mengalami satu atau lebih dari karakteristik berikut: kesulitan dalam
berinteraksi sosial secara kualitatif, kesulitan dalam berkomunikasi secara
kualitatif, menunjukkan perilaku yang repetitif, dan mengalami perkembangan
yang terlambat atau tidak normal.Di Amerika Serikat, kelainan autisme empat
kali lebih sering ditemukan pada anak lelaki dibandingkan anak perempuan dan
lebih sering banyak diderita anak-anak keturunan Eropa Amerika dibandingkan
yang lainnya.Di Indonesia, pada tahun 2013 diperkirakan terdapat lebih dari
112.000 anak yang menderita autisme dalam usia 5-19 tahun.Sedangkan prevalensi
penyandang autisme di seluruh dunia menurut data UNESCO pada tahun 2011 adalah
6 di antara 1000 orang mengidap autisme.
B. Penyebab Autis
Menurut CDC, tidak ada yang tahu apa yang
menyebabkan anak-anak menjadi autis. Para ilmuwan berpikir bahwa ada hubungan
genetika dan lingkungan. Mengetahui penyebab pasti dari autisme sangat sulit
karena otak manusia sangat rumit. Otak mengandung sel saraf lebih dari 100
miliar neuron disebut. Setiap neuron mungkin memiliki ratusan atau ribuan
sambungan yang membawa pesan ke sel-sel saraf lain di otak dan tubuh.
Neurotransmiter menjaga neuron bekerja sebagaimana mestinya, seperti Anda dapat
melihat, merasakan, bergerak, mengingat, emosi pengalaman, berkomunikasi, dan
melakukan banyak hal-hal penting lainnya.Dalam otak anak-anak dengan autisme,
beberapa sel-sel dan koneksi tidak berkembang secara normal atau tidak
terorganisir seperti seharusnya. Para ilmuwan masih mencoba untuk memahami
bagaimana dan mengapa hal ini terjadi.Sejumlah kemungkinan penyebab autis lain
telah diduga, tetapi tidak terbukti. seperti:
- Diet
- Perubahan
saluran pencernaan
- Keracunan
merkuri
- Ketidakmampuan
tubuh menggunakan vitamin dan mineral dengan benar
- Sensitivitas vaksin
Hingga kini apa yang menyebabkan seseorang
dapat menderita autisme belum diketahui secara pasti. Riset-riset yang
dilakukan oleh para ahli medis menghasilkan beberapa hipotesa mengenai penyebab
autisme. Dua hal yang diyakini sebagai pemicu autisme adalah faktor genetik
atau keturunan dan faktor lingkungan seperti pengaruh zat kimiawi ataupun
vaksin.
- Faktor genetic diyakini memiliki peranan yang besar bagi penyandang autisme walaupun tidak diyakini sepenuhnya bahwa autisme hanya dapat disebabkan oleh gen dari keluarga.Riset yang dilakukan terhadap anak autistik menunjukkan bahwa kemungkinan dua anak kembar identik mengalami autisme adalah 60 hingga 95 persen sedangkan kemungkinan untuk dua saudara kandung mengalami autisme hanyalah 2,5 hingga 8,5 persen.Hal ini diinterpretasikan sebagai peranan besar gen sebagai penyebab autisme sebab anak kembar identik memiliki gen yang 100% sama sedangkan saudara kandung hanya memiliki gen yang 50% sama.
- Faktor lingkungan, Ada dugaan bahwa autisme disebabkan oleh vaksin MMR yang rutin diberikan kepada anak-anak di usia dimana gejala-gejala autisme mulai terlihat.Kekhawatiran ini disebabkan karena zat kimia bernama thimerosal yang digunakan untuk mengawetkan vaksin tersebut mengandung merkuri.Unsur merkuri inilah yang selama ini dianggap berpotensi menyebabkan autisme pada anak. Namun, tidak ada bukti kuat yang mendukung bahwa autisme disebabkan oleh pemberian vaksin. Penggunaan thimerosal dalam pengawetan vaksin telah diberhentikan namun angka autisme pada anak semakin tinggi.
- Faktor Kandungan atau Pranatal, Kondisi kandungan juga dapat menyebabkan gejala autisme. Ini di sebabkan oleh virus yang menyerang pada trimester pertama, yaitu virus syndroma rubella selain itu kesehatan lingkungan juga mempengaruhi kesehatan otaka janin dalam kandungan. Polusi udara bedampak negatif pada perkembangan otak dan pisik janin sehingga meningkatkan kemungkinan bayi lahir dengan resiko autis bahkan bayi lahir prematur dan berat bayi kurang juga merupakan resiko terjadinya autis.
- Faktor kelahiran, Bayi yang lahir dengan berat renddah, prematur, dan lama dalam kandungan ( lebih dari 9 bulan ) beresiko mengidap autisme. Selain itu , bayi yang mengalami gagal nafas (hipoksa) saat lahir juga beresiko mengalami autis.
- Faktor Obat, Obat untuk mengatasi rasa mual, muntah ataupun menenang yang di konsumsi ibu hamil beresiko menyebabkan anak autis, karena itu anda harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengkonsumsi obat jenis apapun saat hamil.
- Faktor Makanan, Zat kimia yang terkandung dalam makanan sangat berbahaya untuk kandungan. Salah satunya, perstisida yang terpapar pada sayuran, di ketahui bahwa pestisida mengganggu fungsi gen pada syaraf pusat, menyebabkan anak autis
C. DIAGNOSIS
Anak dengan autisme dapat tampak normal pada
tahun pertama maupun tahun kedua dalam kehidupannya. Para orang tua seringkali
menyadari adanya keterlambatan kemampuan berbahasa dan cara-cara tertentu yang
berbeda ketika bermain serta berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tersebut
mungkin dapat menjadi sangat sensitif atau bahkan tidak responsif terhadap
rangsangan-rangsangan dari kelima panca inderanya (pendengaran, sentuhan,
penciuman, rasa dan penglihatan). Perilaku-perilaku repetitif (mengepak-kepakan
tangan atau jari, menggoyang-goyangkan badan dan mengulang-ulang kata) juga
dapat ditemukan. Perilaku dapat menjadi agresif (baik kepada diri sendiri
maupun orang lain) atau malah sangat pasif. Besar kemungkinan,
perilaku-perilaku terdahulu yang dianggap normal mungkin menjadi gejala-gejala
tambahan. Selain bermain yang berulang-ulang, minat yang terbatas dan hambatan
bersosialisasi, beberapa hal lain yang juga selalu melekat pada para penyandang
autisme adalah respon-respon yang tidak wajar terhadap informasi sensoris yang
mereka terima, misalnya; suara-suara bising, cahaya, permukaan atau tekstur
dari suatu bahan tertentu dan pilihan rasa tertentu pada makanan yang menjadi
kesukaan mereka.Beberapa atau keseluruhan karakteristik yang disebutkan berikut
ini dapat diamati pada para penyandang autisme beserta spektrumnya baik dengan
kondisi yang teringan hingga terberat sekalipun.
- - Hambatan dalam komunikasi, misal: berbicara dan memahami bahasa.
- - Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain
atau obyek di sekitarnya serta menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi.
- - Bermain dengan mainan atau benda-benda lain
secara tidak wajar.
- - Sulit menerima perubahan pada rutinitas dan
lingkungan yang dikenali.
- - Gerakkan tubuh yang berulang-ulang atau
adanya pola-pola perilaku yang tertentu
Para penyandang Autisme beserta spektrumnya sangat beragam baik dalam kemampuan yang dimiliki, tingkat intelegensi, dan bahkan perilakunya. Beberapa di antaranya ada yang tidak 'berbicara' sedangkan beberapa lainnya mungkin terbatas bahasanya sehingga sering ditemukan mengulang-ulang kata atau kalimat (echolalia). Mereka yang memiliki kemampuan bahasa yang tinggi umumnya menggunakan tema-tema yang terbatas dan sulit memahami konsep-konsep yang abstrak. Dengan demikian, selalu terdapat individualitas yang unik dari individu-individu penyandangnya.Terlepas dari berbagai karakteristik di atas, terdapat arahan dan pedoman bagi para orang tua dan para praktisi untuk lebih waspasa dan peduli terhadap gejala-gejala yang terlihat. The National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) di Amerika Serikat menyebutkan 5 jenis perilaku yang harus diwaspadai dan perlunya evaluasi lebih lanjut :
- - Anak tidak bergumam hingga usia 12 bulan
- - Anak tidak memperlihatkan kemampuan gestural
(menunjuk, dada, menggenggam) hingga usia 12 bulan
- - Anak tidak mengucapkan sepatah kata pun
hingga usia 16 bulan
- - Anak tidak mampu menggunakan dua kalimat
secara spontan di usia 24 bulan
- - Anak kehilangan kemampuan berbahasa dan
interaksi sosial pada usia tertentu
Adanya kelima ‘lampu merah’ di atas tidak
berarti bahwa anak tersebut menyandang autisme tetapi karena karakteristik
gangguan autisme yang sangat beragam maka seorang anak harus mendapatkan evaluasi
secara multidisipliner yang dapat meliputi; Neurolog, Psikolog, Pediatric,
Terapi Wicara, Paedagog dan profesi lainnya yang memahami persoalan autisme.Dokter
spesialis yang cocok untuk mendeteksi Autisme adalah Dokter Spesialis Anak
(Sp.A) yang dibantu oleh Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Sp.KJ) untuk
mengetahui antara lain tingkat kecerdasan Balita, Dokter Spesialis Telinga
Hidung Tenggorok-Bedah Kepala leher (Sp.THT-KL) untuk mengetahui antara lain
pendegaran Balita Yang tidak/kurang responsif terhadap suara atau bahkan tidak
dapat berkata-kata dan dapat disangka penderita Autisme, padahal bukan.
D. Tanda, Gejala dan Diagnosis Autisme
Anak-anak dengan autisme mungkin memiliki
masalah dengan komunikasi, keterampilan sosial, dan bereaksi terhadap dunia di
sekitar mereka. Tidak semua perilaku tersebut terdapat di setiap anak.
Diagnosis harus dilakukan oleh dokter anak atau profesional lainnya yang
berpengalaman dalam bekerja dengan anak-anak autisme. Tanda-tanda dan gejala
autisme diuraikan di bawah ini dapat dijadikan pedoman untuk melihat ciri-ciri
autis.
Komunikasi :
- - Tidak berbicara atau sangat terbatas.
- - Kehilangan kata-kata sebelum bisa mengatakan.
- - Kesulitan mengekspresikan keinginan dan
kebutuhan dasar.
- - Kurang dapat membangun kosakata.
- - Bermasalah mengikuti arah atau menemukan
benda-benda yang bernama.
- - Mengulangi apa yang dikatakan (echolalia).
- - Bermasalah menjawab pertanyaan.
- - Ucapan yang terdengar berbeda karena nada
tinggi.
Keterampilan sosial
- - Kontak mata buruk dengan orang atau benda.
- - Kurang dalam bermain keterampilan.
- - Menjadi terlalu fokus pada suatu topik atau
benda-benda yang menarik bagi mereka.
- - Masalah dalam berteman.
- - Menangis,marah, tertawa, atau tertawa tanpa
alasan yang diketahui atau pada waktu yang salah.
- - Menyukai sentuhan atau pelukan.
- Reaksi terhadap lingkungan sekitar mereka
- - Gerakan tangan goyang, mengepakkan atau
lainnya (bergerak sendiri tanpa disadari).
- - Tidak memperhatikan hal-hal yang dilihat atau
didengar.
- - Bermasalah terhadap perubahan dalam
rutinitas.
- - Menggunakan benda-benda dengan cara yang
tidak biasa.
- Tidak takut terhadap bahaya nyata.
- Menjadi sangat sensitif atau tidak cukup
sensitif terhadap sentuhan, cahaya, atau suara (misalnya, tidak menyukai suara
keras atau hanya merespons ketika suara yang sangat keras, disebut juga gangguan
integrasi sensorik).
- Kesulitan makan (hanya menerima makanan yang
dipilih, menolak tekstur makanan tertentu).
- Gangguan tidur.
1. Masalah di
Bidang Komunikasi
a. Kata yang di gunakan terkadang tidak
sesuai artinya
b. Mengoceh tanpa arti secara berulang-ulang
c. Bicara tidak di dipakai untuk alat
komunikasi
d. Senang meniru kata-kata atau lagu tanpa
mengetahui apa artinya
e. Senang menarik-narik tangan orang lain
untuk melakukan apa yang dia inginkan
f. Sebagian anak autis tidak berbicara atau
sedikit berbicara
g. Perkembangan bahasanya lambat atau sama
sekali tidak ada, tampak seperti tuli atau sulit berbicara
2. Masalah di
Bidang Interaksi Sosial
a. Suka menyendiri
b. Menghindari kontak mata
c. Tidak tertarik untuk bermain bersama
d. Menolak atau menjauh bila di ajak untuk
bermain
3. Masalah di
Bidang Sensoris
a. Tidak peka terhadap sentuhan
b. Tidak peka terhadap rasa sakit
c. Langsung menutup telinga bila mendengar
suara yang keras
d. Senang mencium atau menjilat benda yang ada di sekitarnya
4. Masalah di
Bidang Pola Bermain
a. Tidak bermain seperti anak lain pada
umumnya
b. Tiak bermain sesuai dengan fungsi
mainanya
c. Sangat lekat dengan benda-benda tertentu
d. Senang terhadap benda-benda berputar
e. Tidak memiliki kreativitas dari
imajinasi
f. Tidak suka bermain dengan teman sebayanya
5. Masalah di
Bidang Prilaku
a. Dapat berprilaku berlebihan atau terlalu
aktif dan sebaliknya
b. Melakukan gerakan yang berulang-ulang
c. Tidak suka pada perubahan
d. Merangsang diri
e. Duduk bengong dengan tatapan kosong
6. Masalah di
Bidang Emosi
a. Sering marah, menangis , dan tertawa
tanpa alasan yang jelas
b. Kadang-kadang agresif dan merusak
c. Kadang-kadang menyakiti diri sendiri
d. Dapat mengamuk tak terkendali
e. Tidak memiliki empati
Dari melihat beberapa gejala dan tanda tersebut dijadikan pedoman dalam diagnosis autisme. Hal ini penting agar anak Anda dievaluasi oleh para profesional yang tahu tentang autisme. Speech-language pathologists (SLPs), biasanya sebagai bagian dari tim, bisa mendiagnosa autisme. Tim termasuk dokter anak, ahli saraf, terapis okupasi, terapis fisik, dan spesialis perkembangan. SLPs memainkan peran kunci karena masalah dengan keterampilan sosial dan komunikasi sering menjadi gejala pertama autisme. SLPs harus berkonsultasi pada awal proses evaluasi. Ada beberapa tes dan daftar periksa observasi yang tersedia untuk mengevaluasi anak-anak dengan masalah perkembangan. Informasi yang paling penting datang dari orang tua dan pengasuh anak yang tahu dengan baik dan dapat memberitahu SLP dan lain-lain mengenai segala perilaku anak. Seorang anak dengan autis juga mungkin dilakukan tes pendengaran dan beberapa tes lain untuk memastikan bahwa masalah tidak disebabkan oleh beberapa kondisi lain.
E. Masalah-masalah anak autis :
a.
Perilaku
Prilakunya sangat tidak wajar dan cenderung mengalihkan
perhatian. Cenderung “peka secara berlebihan” (suara, sentuhan, irama) terhadap
stimulus lingkungan juga kerap membuat anak berprilaku kurang menyebnangkan
b.
Pemahaman
Anak autis lebih merespon terhadap stimulus
visual, sehingga interaksi dan uraian verbal (apalagi yang panjang dalam bahasa
yang rumit) akan sulit mereka pahami.
c.
Komunikasi
Anak autis sulit berekpresi diri. Sebagian
besar dari mereka, meskipun dapat berbicara namun menggunakan kalimat pendek
dan kosakata yang sederhana.
d.
Interaksi
Permasalahan pada perkembangan sosialnya,
Sulitnya berkomunikasi, dan tidak mampu memahami aturan-aturan dalam pergaulan,
sehingga biasanya anak autis tidak memiliki banyak teman.
Asesmen
Prinsip Pembelajaran Bagi Anak Autis
a. Prinsip Kekonkritan
Saat belajar guru mungkin dapat mengguanakan
benda-benda konkrit sebagai alat bantu atau media dan sumber pencapaian tujuan
pembelajaran
b.
Prinsip Belajar Sambil Melakuakan
Proses pembelajaran tidak harus selamanya
bersifat informatif, tetapi bisa juga peserta didik diajak kedalam situasi
nyata sesuai dengan tuntutan tujuan yang ingin dicapai dan karakter bahan yang
diajarkan sehingga materi yang disampaikan dapat mengasah empati pada diri anak
autis.
c.
Prinsip Ketararahan Wajah dan Suara
Siswa autis mengalami hambatan dalam
pemusatan perhatian dan konsentrasi, sehingga kesulitan dalam memahami setiap
materi yang diajarkan padanya. Guru diharapkan mampu memberikan pemahaman
secara jelas, baik dalam gerak maupun suara. Guru hendaknya menggunakan
lafal/ejaan yang jelas dan tegas, serta menghadap ke peserta didik serta mudah
dimengerti.
d.
Prinsip Kasih Sayang
Anak autis memiliki hambatan atau kesulitan
pada konsentrasi sehingga berdampak negatif pada kognitifnya, dalam hal ini
anak autis membutuhkan kasih sayang yang tulus dari guru. Guru hendaknya
menggunakan bahasa yang sederhana, tegas, jelas, memahami kondisi siswa dan
menunjukkan sikap sabar, rela berkorban, memberi contoh perilaku yang baik,
ramah. Sehingga tumbuh ketertarikan siswa, dan akhirnya mereka memiliki
semangat untuk belajar.
e.
Prinsip Kebebasan yang Terarah
Siswa autis memiliki sikap yang tidak mau
dikekang dan semaunya sendiri. Guru hendaknya mampu mengarahkan dan menyalurkan
segala perilaku anak ke arah positif dan berguna, baik untuk dirinya sendiri
maupun untuk otang lain.
f.
Prinsip Penggunaan Waktu Luang
Siswa autis tidak bisa diam. Selalu ada saja
yang ia kerjakan sehingga lupa waktu tidur, istirahan dan lain sebagainya. Guru
hendaknya membimbing siswa dengan mengisi waktu luangnya dengan
kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.
g.
Prinsip Minat dan Kemampuan
Guru harus mempu menggali minat dan kemampuan
siswa dalam pelajraan, untuk dijadiakan acuan dalam memberi tugas-tugas
tertentu. Dengan memberi tugas yang sesuai, mereka akan merasa senang , dan
lama-kelamaan mereka akan terbiasa belajar.
h.
Prinsip Emosional, Sosial, dan Perilaku
Anak autis memiliki ketidaksinambungan emosi,
sehingga berprilaku semaunya sendiri, dan tidak terkontrol dalam pergaulan
hidup bermasayarakat. Guru harus berusaha mengidentifikasi problem emosi anak,
kemudian berupaya menghilangkannya untuk menumbuhakan sifat empati pada
lingkungan.
i.
Prinsip Disiplin
Anak autis biasanya memenuhi keinginannya
tanpa memperhatikan situasi dan kondisi di lingkungannya. Guru perlu
membiasakan siswa untuk hidup teratur dengan selalu diberikan keteladanan dan
pembinaan dengan sabar.
F.
JENIS-JENIS AUTIS
Beberapa macam jenis autisme :
1. Autistic Disorder (Autism). Muncul sebelum
usia 3 tahun dan ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi
dan kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada
minat dan aktivitas.
2. Asperger’s Syndrome. Hambatan perkembangan
interaksi sosial dan adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum
tidak menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat
intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata. Seperti
pada Autisme Masa Kanak, Sindrom Asperger (SA) juga lebih banyak terdapat pada
anak laki-laki daripada wanita.Anak SA juga mempunyai gangguan dalam bidang
komunikasi, interaksi sosial maupun perilaku, namun tidak separah seperti pada
Autisme.Pada kebanyakan dari anak-anak ini perkembangan bicara tidak terganggu.
Bicaranya tepat waktu dan cukup lancar, meskipun ada juga yang bicaranya agak
terlambat. Namun meskipun mereka pandai bicara, mereka kurang bisa komunikasi
secara timbal balik. Komunikasi biasanya jalannya searah, dimana anak banyak
bicara mengenai apa yang saat itu menjadi obsesinya, tanpa bisa merasakan
apakah lawan bicaranya merasa tertarik atau tidak. Seringkali mereka mempunyai
cara bicara dengan tata bahasa yang baku dan dalam berkomunikasi kurang
menggunakan bahasa tubuh. Ekspresi muka pun kurang hidup bila dibanding
anak-anak lain seumurnya.Mereka biasanya terobsesi dengan kuat pada suatu
benda/subjek tertentu, seperti mobil, pesawat terbang, atau hal-hal ilmiah
lain. Mereka mengetahui dengan sangat detil mengenai hal yang menjadi
obsesinya. Obsesi inipun biasanya berganti-ganti.Kebanyakan anak SA cerdas,
mempunyai daya ingat yang kuat dan tidak mempunyai kesulitan dalam pelajaran
disekolah.Mereka mempunyai sifat yang kaku, misalnya bila mereka telah
mempelajari sesuatu aturan, maka mereka akan menerapkannya secara kaku, dan
akan merasa sangat marah bila orang lain melanggar peraturan tersebut. Misalnya
: harus berhenti bila lampu lalu lintas kuning, membuang sampah dijalan secara
sembarangan.Dalam interaksi sosial juga mereka mengalami kesulitan untuk
berinteraksi dengan teman sebaya. Mereka lebih tertarik pada buku atau komputer
daripada teman. Mereka sulit berempati dan tidak bisa melihat/menginterpretasikan
ekspresi wajah orang lain.Perilakunya kadang-kadang tidak mengikuti norma
sosial, memotong pembicaraan orang seenaknya, mengatakan sesuatu tentang
seseorang didepan orang tersebut tanpa merasa bersalah (mis. “Ibu, lihat, bapak
itu kepalanya botak dan hidungnya besar ”). Kalau diberi tahu bahwa tidak boleh
mengatakan begitu, ia akan menjawab : “Tapi itu kan benar Bu.”Anak SA jarang
yang menunjukkan gerakan-gerakan motorik yang aneh seperti mengepak-ngepak atau
melompat-lompat atau stimulasi diri.
3. Pervasive Developmental Disorder – Not
Otherwise Specified (PDD-NOS). Merujuk pada istilah atypical autism, diagnosa
PDD-NOS berlaku bila seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada
diagnosa tertentu (Autisme, Asperger atau Rett Syndrome). PDD-NOS juga mempunyai gejala gangguan
perkembangan dalam bidang komunikasi, interaksi maupun perilaku, namun
gejalanya tidak sebanyak seperti pada Autisme Masa kanak.Kualitas dari gangguan
tersebut lebih ringan, sehingga kadang-kadang anak-anak ini masih bisa bertatap
mata, ekspresi fasial tidak terlalu datar, dan masih bisa diajak bergurau.
4. Rett’s Syndrome. Lebih sering terjadi pada
anak perempuan dan jarang terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami
perkembangan yang normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang
dimilikinya; kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan
gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 1 – 4 tahun. Sindroma Rett adalah gangguan perkembangan
yang hanya dialami oleh anak wanita. Kehamilannya normal, kelahiran normal,
perkembangan normal sampai sekitar umur 6 bulan. Lingkaran kepala normal pada
saat lahir.Mulai sekitar umur 6 bulan mereka mulai mengalami kemunduran
perkembangan. Pertumbuhan kepala mulai berkurang antara umur 5 bulan sampai 4
tahun. Gerakan tangan menjadi tak terkendali, gerakan yang terarah hilang,
disertai dengan gangguan komunikasi dan penarikan diri secara sosial. Gerakan-gerakan
otot tampak makin tidak terkoordinasi.Seringkali memasukan tangan kemulut,
menepukkan tangan dan membuat gerakan dengan dua tangannya seperti orang sedang
mencuci baju.. Hal ini terjadi antara umur 6-30 bulan.Terjadi gangguan
berbahasa, perseptif maupun ekspresif disertai kemunduran psikomotor yang
hebat.Yang sangat khas adalah timbulnya gerakan-gerakan tangan yang terus
menerus seperti orang yang sedang mencuci baju yang hanya berhenti bila anak
tidur.Gejala-gejala lain yang sering menyertai adalah gangguan pernafasan,
otot-otot yang makin kaku , timbul kejang, scoliosis tulang punggung,
pertumbuhan terhambat dan kaki makin mengecil (hypotrophik). Pemeriksaan EEG
biasanya menunjukkan kelainan.
5. Childhood Disintegrative Disorder (CDD).
Menunjukkan perkembangan yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan
kemudian tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai
sebelumnya.
6. Early Imfantil Autism terjadi karena
kurangnya kasih sayang dari orang tua.
G. MODEL
PELAYANAN PENDIDIKAN BAGI ANAK AUTIS
Pendidikan untuk anak autis usia sekolah bisa
dilakukan di berbagai penempatan. Berbagai model antara lain:
1. Kelas transisi
Kelas ini diperuntukkan bagi anak autistik
yang telah diterapi memerlukan layanan khusus termasuk anak autistik yang telah
diterapi secara terpadu atau struktur. Kelas transisi sedapat mungkin berada di
sekolah reguler, sehingga pada saat tertentu anak dapat bersosialisasi dengan
anak lain. Kelas transisi merupakan kelas persiapan dan pengenalan pengajaran
dengan acuan kurikulum SD dengan dimodifikasi sesuai kebutuhan anak.
2. Program Pendidikan Inklusi
Program ini dilaksanakan oleh sekolah reguler
yang sudah siap memberikan layanan bagi anak autistik. Untuk dapat membuka
program ini sekolah harus memenuhi persyaratan antara lain:
1.
Guru terkait telah siap menerima anak autistik
2.
Tersedia ruang khusus (resourse room) untuk penanganan individual
3.
Tersedia guru pembimbing khusus dan guru pendamping.
4.
Dalam satu kelas sebaiknya tidak lebih dari 2 (dua) anak autistik.
5.
Dan lain-lain yang dianggap perlu.
3. Program Pendidikan Terpadu
Program Pendidikan Terpadu dilaksanakan
disekolah reguler. Dalam kasus/waktu tertentu, anak-anak autistik dilayani di
kelas khusus untuk remedial
4. Sekolah Khusus Autis
Sekolah ini diperuntukkan khusus bagi anak
autistik terutama yang tidak memungkinkan dapat mengikuti pendidikan di sekolah
reguler. Anak di sekolah ini sangat sulit untuk dapat berkonsentrasi dengan
adanya distraksi sekeliling mereka. Pendidikan di sekolah difokuskan pada
program fungsional seperti bina diri, bakat, dan minat yang sesuai dengan
potensi mereka.
5. Program Sekolah di Rumah
Program ini diperuntukkan bagi anak autistik
yang tidak mampu mengikuti pendidikan di sekolah khusus karena keterbatasannya.
Anak-anak autistik yang non verbal, retardasi mental atau mengalami gangguan
serius motorik dan auditorinya dapat mengikuti program sekolah di rumah.
Program dilaksanakan di rumah dengan mendatangkan guru pembimbing atau terapis
atas kerjasama sekolah, orangtua dan masyarakat.
6. Panti (griya) Rehabilitasi Autis
Anak autistik yang kemampuannya sangat
rendah, gangguannya sangat parah dapat mengikuti program di panti (griya)
rehabilitasi autistik. Program dipanti rehabilitasi lebih terfokus pada
pengembangan:
(1) Pengenalan diri
(2) Sensori motor dan persepsi
(3) Motorik kasar dan halus
(4) Kemampuan berbahasa dan komunikasi
(5) Bina diri, kemampuan sosial
(6) Ketrampilan kerja terbatas sesuai minat,
bakat dan potensinya.
H. KEGIATAN
BELAJAR MENGAJAR
1.
Prinsip-prinsip pengajaran dan pendidikan
Pendidikan dan pengajaran anak autistik pada
umumnya dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Terstruktur
Pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik
diterapkan prinsip terstruktur, artinya dalam pendidikan atau pemberian materi
pengajaran dimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan
oleh anak. Setelah kemampuan tersebut dikuasai, ditingkatkan lagi ke bahan ajar
yang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah dari
materi sebelumnya.
Struktur pendidikan dan pengajaran bagi anak
autistik meliputi :
- Struktur waktu
- Struktur ruang, dan
- Struktur kegiatan
b. Terpola
Kegiatan anak autistik biasanya terbentuk dari rutinitas yang terpola dan terjadwal, baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya), mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Oleh karena itu dalam pendidikannya harus dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur.
c. Terprogram
Prinsip dasar terprogram berguna untuk
memberi arahan dari tujuan yang ingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan
evaluasi.
d. Konsisten
Dalam pelaksanaan pendidikan dan terapi
perilaku bagi anak autistik, prinsip konsistensi mutlak diperlukan. Artinya :
apabila anak berperilaku positif memberi respon positif terhadap susatu
stimulan (rangsangan), maka guru pembimbing harus cepat memberikan respon
positif (reward/penguatan), begitu pula apabila anak berperilaku negatif
(Reniforcement) Hal tersebut juga dilakukan dalam ruang dan waktu lain yang
berbeda (maintenance) secara tetap dan tepat, dalam arti respon yang diberikan
harus sesuai dengan perilaku sebelumnya.
e. Kontinyu
Pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik
sebenarnya tidak jauh berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Maka prinsip
pendidikan dan pengajaran yang berkesinambungan juga mutlak diperlukan bagi
anak autistik. Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar
pengajaran, program pendidikan dan pelaksanaannya. Kontinyuitas dalam
pelaksanaan pendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi juga harus
ditindaklanjuti untuk kegiatan dirumah dan lingkungan sekitar anak.
Kesimpulannya, therapi perilaku dan pendidikan bagi anak autistik harus
dilaksanakan secara berkesinambungan, simultan dan integral (menyeluruh dan terpadu).
2.
Kurikulum
Dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran
bagi anak autistik tentunya harus berdasarkan pada kurikulum pendidikan yang
berorientasi pada kemampuan dan ketidak mampuan anak dengan memperhatikan deferensiasi
masing-masing individu.
3.
Pendekatan dan Metode
Pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik
menggunakan Pendekatan dan program individual. Sedangkan metode yang digunakan
adalah merupakan perpaduan dari metode yang ada, dimana penerapannya
disesuaikan kondisi dan kemampuan anak serta materi dari pengajaran yang
diberikan kepada anak. Metode dalam pengajaran anak autistik adalah metode yang
memberikan gambaran kongkrit tentang "sesuatu", sehingga anak dapat
menangkap pesan, informasi dan pengertian tentang "sesuatu" tersebut.
4.
Sarana Belajar Mengajar
Sarana belajar diperlukan, karena akan membantu kelancaran proses pembelajaran dan membantu pembentukan konsep pengertian secara kongkrit bagi anak autistik. Pola pikir anak autistik pada umumnya adalah pola pikir kongkrit. sehingga sarana belajar mengajarnyapun juga harus kongkrit. Beberapa anak autistik dapat berabstraksi, namun pada awalnya mereka dilatih dengan sarana belajar yang kongkrit
5. Evaluasi
Untuk mengukur berhasil atau tidaknya
pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan adanya evaluasi (penilaian). Dalam
pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik evaluasi dapat dilakukan dengan
cara:
1. Evaluasi Proses
Evaluasi Proses ini dilakukan dengan cara
seketika pada saat proses kegiatan berlangsung dengan cara meluruskan atau
membetulkan perilaku menyimpang atau pembelajaran yang sedang berlangsung
seketika itu juga. Hal ini dilakukan oleh pembimbing dengan cara memberi reward
atau demonstrasi secara visual dan kongkrit..
2. Evaluasi Bulan
Evaluasi ini bertujuan untuk memberikan
laporan perkembangan atau permasalahan yang ditemukan atau dihadapi oleh
pembimbing di sekolah. Evaluasi bulanan ini dilakukan dengan cara mendiskusikan
masalah dan perkembangan anak antara guru dan orang tua anak autistik guna
mendapatkan pemecahan masalah (solusi dan pemecahan masalah), antara lain
dengan mencari penyebab dan latar belakang munculnya masalah serta pemecahan
masalah macam apa yang tepat dan cocok untuk anak autistik yang menjadi contoh
kasus.
3. Evaluasi Catur Wulan
Evaluasi ini disebut juga dengan evaluasi
program yang dimaksud sebagai tolok ukur keberhasilan program secara
menyeluruh. Apabila tujuan program pendidikan dan pengajaran telah tercapai dan
dapat dikuasai anak, maka kelanjutan program dan kesinambungan program
ditingkatkan dengan bertolak dari kemampuan akhir yang dikuasai anak,
sebaliknya apabila program belum dapat terkuasai oleh anak maka diadakan
pengulangan program (remedial) atau meninjau ulang apa yang menyebabkan ketidak
berhasilan pencapaian program.
I.
HAMBATAN PROSES BELAJAR MENGAJAR DAN SOLUSINYA
1. MasalahPerilaku
Masalahperilaku yang seringmunculyaitu
:stimulasidiri dan stereotip.
Bilaperilakutersebutmuncul yang
dapatkitalakukan :
MemberikanReinforcement.
Tidakmemberiwaktuluangbagianakuntukasyikdengandirisendiri
Siapkan kegiatan yang menarik dan positif
Menciptakan situasi yang kondusif bagi anak, tidak menyakiti diri.
2. Masalah Emosi :
Masalah ini menyangkut kondisi emosi yang
tidak stabil, misalnya; menangis, berteriak, tertawa tanpa sebab yang jelas,
memberontak, mengamuk, destruktif, tantrum.Cara mengatasinya :
a.
Berusaha mencari dan menemukan penyebabnya
b.
Berusaha menenangkan anak dengan cara tetap bersikap tenang.
c.
Setelah kondisi emosinya mulai
membaik, kegiatan dapat dilanjutkan.
3. Masalah Perhatian (Konsentrasi)
Perhatian anak dalam belajar kadang belum
dapat bertahan untuk waktu yang lama dan masih berpindah pada obyek/kegiatan
lain yang lebih menarik bagi anak. Untuk itu maka usaha yang harus diupayakan
oleh pembimbing adalah:
a.
Waktu untuk belajar bagi anak ditingkatkan secara bertahap.
b.
Kegiatan dibuat semenarik mungkin, dan bervariasi.
c.
Istirahat sebentar kemudian kegiatan dilanjutkan kembali, dimaksudkan
untuk mengurangi kejenuhan pada anak, misal: menyanyi, bermain,
4. Masalah Kesehatan
Bila kondisi kesehatan siswa kurang baik,
maka kegiatan belajar mengajar tidak dapat berjalan secara efektif, namun
demikian kegiatan belajar tetap dapat dilaksanakan, hanya saja dalam
pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi anak.
5. Orang Tua
Untuk memberikan wawasan pada orang tua,
perlu dibentuk Perkumpulan Orang Tua Siswa, sebagai sarana penyebaran berbagi
pengalaman sesama seperti informasi baru dari informasi internet, buku-buku
bahkan jika mungkin tatap muka dengan tokoh yang berkaitan dalam pendidikan
untuk anak autistik atau anak dengan kebutuhan khusus.
6. Masalah Sarana Belajar
Dengan menyediakan materi-materi yang mungkin
diperlukan untuk kepentingan terapi anak-anaknya misalnya :
- Textbook berbahasa Inggris dan Indonesia,
- Buku-buku pelajaran
J. PENGOBATAN
AUTISME
Autisme termasuk kelainan yang tidak bisa
disembuhkan. Namun, banyak layanan bantuan pendidikan serta terapi perilaku
khusus yang dapat meningkatkan kemampuan penyandang autisme. Aspek-aspek
penting dalam perkembangan anak yang seharusnya menjadi fokus adalah kemampuan
berkomunikasi, berinteraksi, kognitif, serta akademis.Penanganan autisme
bertujuan untuk mengembangkan kemampuan para penyandang semaksimal mungkin agar
mereka bisa menjalani kehidupan sehari-hari. Beberapa langkah penanganan yang
umumnya dianjurkan adalah:
·
Terapi
perilaku dan komunikasi. Ini dilakukan agar penyandang autisme lebih mudah
beradaptasi. Contoh terapinya adalah terapi perilaku kognitif atau Cognitive
Behavioural Therapy (CBT).
·
Terapi
keluarga agar orang tua atau saudara bisa belajar cara berinteraksi dengan
penyandang autisme.
·
Pemberian
obat-obatan. Walau tidak bisa menyembuhkan autisme, obat-obatan mungkin
diberikan guna mengendalikan gejala-gejala tertentu. Contohnya, antidepresan
untuk mengendalikan gangguan kecemasan, penghambat pelepasan selektif serotonin
(SSRI) untuk menangani depresi, melatonin untuk mengatasi gangguan tidur, atau
obat anti-psikotik untuk menangani perilaku yang agresif dan membahayakan.
·
Terapi
psikologi. Penanganan ini dianjurkan apabila penyandang autisme juga mengidap
masalah kejiwaan lain, seperti gangguan kecemasan.
Pengajaran dan Pelatihan Untuk Orang Tua
Peran orang tua bagi anak-anak penyandang
autisme sangatlah penting. Partisipasi aktif orang tua akan mendukung dan
membantu meningkatkan kemampuan sang anak.Mencari informasi sebanyak mungkin
tentang autisme serta penanganannya sangat dianjurkan untuk para orang tua.
Anda bisa mencari tahu lebih banyak melalui Masyarakat Peduli Autis Indonesia
(MPATI) serta Yayasan Autisma Indonesia.Membantu anak Anda untuk berkomunikasi
juga dapat mengurangi kecemasan dan memperbaiki perilakunya, karena komunikasi
adalah hambatan khusus bagi anak-anak dengan autisme. Kiat-kiat yang mungkin
bisa berguna meliputi:
- · Menggunakan kata-kata yang sederhana.
- ·
Selalu
menyebut nama anak saat mengajaknya bicara.
- ·
Manfaatkan
bahasa tubuh untuk memperjelas maksud Anda.
- ·
Berbicara
dengan pelan dan jelas.
- ·
Beri
waktu pada anak Anda untuk memroses kata-kata Anda.
- ·
Jangan
berbicara saat di sekeliling Anda berisik.
- Metode Pengobatan yang Sebaiknya Dihindari
Ada sejumlah metode pengobatan alternatif
yang dianggap bisa mengatasi autisme, tapi, keefektifannya sama sekali belum
terbukti dan bahkan berpotensi membahayakan. Metode-metode pengobatan
alternatif yang sebaiknya dihindari tersebut adalah:
- ·
Pola
makan khusus, misalnya makanan bebas gluten.
- ·
Terapi
khelasi, yaitu pengguanaan obat-obatan atau zat tertentu untuk menghilangkan
zat logam (terutama merkuri) dari dalam tubuh.
- ·
Terapi
oksigen hiperbarik yang menggunakan oksigen dalam ruang udara bertekanan
tinggi.
- ·
Terapi
neurofeedback, di mana pasien akan melihat gelombang otaknya melalui monitor
dan diajari cara untuk mengubahnya.
TERAPI :
- ABA atau Applied Behavorial Analysis, merupakan jenis terapi pengobatan autisme yang paling sering digunakan di Indonesia dengan sistem positive reinforcement di mana anak yang menderita penyakit tersebut akan distabilkan melalui sebuah cara hukuman dan hadiah. Maksud dari pengertian hukuman dan hadiah adalah menerapkan sebuah kedisiplinan dimana anak akan memperoleh hadiah jika melakukan sebuah tugas tertentu atau berkelakukan baik dalam waktu yang ditetapkan. Sementara hukuman akan diberikan jika mereka melakukan kesalahan fatal atau melakukan perbuatan buruk dengan jenis hukuman tertentu.
- Terapi wicara, merupakan salah satu metode penyembuhan penyakit autisme pada anak dimana maksud dan tujuan dari terapi ini adalah untuk melatih atau mengembangkan kemampuan komunikasi pada anak sehingga mereka bisa berbicara secara normal dengan orang lain dan melebur menjadi satu dalam masyarakat.
- Terapi Okupasi, Kebanyakan anak yang menderita autisme sangat sulit untuk mengendalikan kemampuan otot-otot halusnya secara normal seperti tidak bisa memegang alat tulis dengan benar, alat makan juga tidak bisa dipegang dengan normal karena gerakan ototnya sangat kaku. Dengan melakukan terapi ini, maka anak akan dilatih secara motorik untuk bisa melemaskan otot halus dan bisa memgang semua peralatan layaknya orang normal.
- Terapi Fisik, Pengobatan autisme pada anak berikutnya adalah dengan melakukan terapi fisik. Terapi ini hampir sama dengan okupasi hanya saja terapi fisik lebih difokuskan pada kekuatan otot-otot seluruh tubuh sehingga anak bisa berdiri dengan tegap, berjalan dengan normal sehingga memiliki keseimbangan yang baik. Terapi ini terbagi menjadi dua macam yaitu fisioterapi dan juga integrasi sensorik.
- Terapi Sosial, Terapi sosial ini hampir sama dengan terapi wicara, hanya saja jenis terapinya sedikit berbeda karena anak dilatih untuk bisa berkomunikasi dua arah dengan teman yang seusiannya termasuk juga dengan mengajaknya bermain bersama dan menambah teman baru sehingga memudahkan mereka untuk bergaul.
- Terapi Bermain, Mengajari anak bermain juga merupakan salah satu cara untuk menyembuhkan autisme secara normal karena anak yang mengalami gangguan tersebut biasanya memiliki permainannya serta dunianya sendiri sehingga menyulitkan mereka untuk berkomunikasi dan bersosialisasi bersama dengan anak-anak lain.
Dengan menerapkan beberapa
cara penyembuhan penyakit autis yang menimpa anak melalui metode terapi,
diharapkan anak-anak tersebut bisa hidup dengan normal dan berkembang baik
diantara anak-anak seusiannya.
AUSTIME DEWASA
Autisme adalah suatu gangguan mental yang ditandai dengan kesulitan berkomunikasi dan keterbatasan untuk membentuk suatu hubungan dengan orang lain. Gejala autisme pada umumnya timbul dan dikenali di masa kanak-kanak. Meski demikian, kesulitan untuk bersosialisasi juga umum terjadi pada orang dewasa. Lalu, apa ini artinya kita juga bisa mengidap autisme begitu beranjak dewasa?
Apakah autisme mungkin timbul pada orang dewasa?
Untuk seseorang bisa dikatakan memiliki gangguan autisme, gejala autisme seperti kesulitan berbicara dan berkomunikasi harus sudah ada pada diri pengidap semenjak ia berusia anak-anak atau bahkan lebih muda lagi.Autisme tidak dapat muncul dengan sendirinya atau diperoleh saat seseorang sudah melewati masa pertumbuhannya. Sehingga jika seseorang secara tiba-tiba mengalami gangguan untuk berkomunikasi dan gangguan perilaku sosial saat usia remaja akhir atau dewasa maka hal tersebut bukanlah autisme.
Gejala autisme pada dasarnya sudah muncul dan berkembang semenjak dalam masa tumbuh kembang anak, tapi dapat tersamarkan karena gejalanya bisa tidak muncul sepenuhnya. Gejala autisme pada usia dewasa dapat dikenali ketika tuntutan hidup yang dihadapi telah melebihi kapasitas kemampuan pengidap autisme tersebut. Gejala autisme juga cenderung dapat menyaru dengan perilaku unik masing-masing individu yang dipelajari seiring dengan bertambahnya usia.
Autisme pada remaja dapat tersamarkan karena pola perilaku dan emosi tipikal remaja yang cenderung naik-turun karena pubertas. Masa puber pada umumnya menyebabkan seorang remaja normal merasa kewalahan atau kebingungan untuk beradaptasi, namun pada pengindap autisme, hal tersebut dapat berdampak lebih serius hingga dapat menyebabkan gangguan kecemasan dan depresi.
Namun demikian, mereka yang
didiagnosis memiliki autisme baru saat dewasa cenderung dapat bekerja dan hidup
mandiri dengan kemampuan mereka sendiri. Hal ini tentu berkaitan erat dengan
sejauh mana tingkat kecerdasan dan keterampilan mereka untuk berkomunikasi dengan
lingkungan sekitarnya. Tingkat kecerdasan yang rendah membuat pengidap autisme
dewasa membutuhkan lebih banyak bantuan untuk bisa lancar berkomunikasi.
Pengidap autisme dewasa yang dapat hidup mandiri dan sukses dalam berprofesi
pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang di atas rata-rata.
Tanda dan gejala autisme
yang muncul pada orang dewasa :
- Memastikan gejala autisme pada orang dewasa tergolong lebih sulit karena tingkah pola dan perilaku mereka yang sudah terbentuk dari pengalaman hidupnya. Ada sejumlah karakteristik khusus yang ditunjukkan oleh orang dewasa dengan autisme. Namun perlu diingat bahwa adanya beberapa tanda dibawah ini pada diri seseorang bukan berarti ia mengalami autisme.
- Punya sedikit teman, Orang-orang yang memiliki autisme mengalami kesulitan berbahasa juga menunjukkan perilaku unik yang tidak wajar ditampilkan oleh orang dewasa normal pada umumnya sehingga mereka cenderung menarik diri dari orang lain.
- Keterbatasan dalam berbahasa, Keterbatasan berbahasa ditandai dengan kesulitan untuk melakukan percakapan, menemukan kata untuk mengekspresikan kebutuhan mereka, dan kesulitan untuk memproses suatu pikiran.
- Gangguan minat dan perhatian, Gejala autisme pada orang dewasa bisa ditandai dengan sedikitnya minat atau hal yang disukai, namun mereka memiliki pengetahuan yang sangat mendalam akan satu bidang yang sangat spesifik, seperti bidang penerbangan, mekanik, asal mula kata, atau sejarah serta cenderung sangat sulit untuk mengekspresikan minat pada hal lainnya.
- Kesulitan menemukan pasangan, Hal ini disebabkan karena kesulitan untuk berkomunikasi dengan baik dan tidak dapat memahami bahasa non-verbal atau maksud gerak-gerik dari orang lain.
- Sulit berempati, Autisme menyebabkan mereka cenderung sulit untuk memahami perasaan atau pemikiran yang dimiliki oleh orang lain sehingga mengalami kesulitan untuk membaur dengan lingkungan sosial.
- Rentan mengalami gangguan tidur, Hal ini dapat dipicu oleh kecemasan dan gangguan mental kognitif seperti kesulitan berkonsentrasi, mengatur emosi dan depresi.
- Gangguan memproses informasi, Autisme menyebabkan pengidapnya tidak dapat merespon rangsangan dari luar seperti gerakan atau suara orang lain berbicara, ataupun hal lainnya seperti penglihatan, aroma, dan informasi yang diberikan dari lingkungan sekitar.
- Pola perilaku berulang, Orang dewasa dengan autisme dapat mengulang-ulang hal yang mereka lakukan dalam waktu yang lebih lama dibandingkan orang normal dalam durasi hitungan hari. Hal tersebut menyebabkan mereka cenderung lebih sedikit bersosialiasi dan berkomunikasi.
- Terlalu bergantung dengan rutinitas, Autisme pada orang dewasa menyebabkan mereka sangat saklek terhadap rutinitasnya hingga detil terkecil sekalipun dan melakukan hal yang sama berulang kali setiap hari, sehingga mereka enggan untuk mencoba hal baru. Mereka juga cenderung tidak menyukai aktivitas yang mengharuskan mereka bepergian ke tempat baru, mencoba makanan atau restoran baru. Perubahan jadwal atau rutinitas mendadak membuat mereka merasa tidak nyaman.
Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi gejala autisme pada orang dewasa?
Hingga saat ini autisme tidak memiliki pengobatan spesifik. Namun ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir peluang munculnya gejala autisme pada orang dewasa. Hal ini dapat dilakukan dengan serangkaian terapi seperti pendidikan khusus bagi individu dengan autisme, modifikasi perilaku, dan terapi keterampilan dan kemampuan sosial. Orang dewasa dengan autisme mungkin juga membutuhkan pengobatan untuk mengatasi gangguan kecemasan, gangguan tidur, atau obat penenang lainnya untuk mencegah mereka membahayakan dirinya sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim,Http:// www.Dikdasmen.Com/Pendidikan anak
Autisme.Html
Danuatmaja,B. (2003). Terapi Anak Autis di Rumah,
Jakarta: Puspa Suara
Ellah Siti Chalidah (2005), Terapi permainan bagi anak
yang memerlukan layanan
http://sekolahautismeal-ihsan.com/artikel/sekilas-tentang-autisme.html
Pendidikan Khusus, Source (Sumber) : Dikdasmen Depdiknas
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2FSMK-Kesehatan-Samarinda-690636637758562%2Fposts&psig=AOvVaw3zRC6wXiDFv6oqvbR96ZV0&ust=1600329590737000&source=images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCKjK0bma7esCFQAAAAAdAAAAABAN
#marikitarangkulsaudarakitayangberkebutuhankhususdansayangimereka

Komentar
Posting Komentar